Mengapakah Makhluk-makhluk Hidup dalam Kebencian?
Sakka, penguasa para deva bertanya kepada Sang Bhagavā:
“Makhluk-makhluk berkeinginan untuk hidup tanpa kebencian, tanpa mencelakai, tanpa permusuhan, dan tanpa perseteruan; mereka ingin hidup dalam kedamaian. Namun mereka hidup dalam kebencian, saling mencelakai satu sama lain, bermusuhan, dan sebagai musuh.
Oleh belenggu apakah mereka terikat, Yang Mulia, sehingga mereka hidup demikian?”
[Sang Bhagavā berkata:] “Penguasa para deva, adalah belenggu iri hati dan kekikiran yang mengikat makhluk makhluk itu sehingga, walaupun mereka berkeinginan untuk hidup tanpa kebencian, tanpa mencelakai, tanpa permusuhan, dan tanpa perseteruan; dan ingin hidup dalam kedamaian, namun mereka hidup dalam kebencian, saling mencelakai satu sama lain, bermusuhan, dan sebagai musuh.”
Ini adalah jawaban Sang Bhagavā,
dan Sakka, karena gembira,berseru: “Demikianlah, Sang Bhagavā! Demikianlah, Yang Sempurna!
Melalui jawaban Sang Bhagavā aku telah mengatasi keragu-raguanku dan terbebas dari kebimbangan.”
Kemudian Sakka, setelah mengungkapkan penghargaannya, mengajukan pertanyaan lain:
“Tetapi, Yang Mulia, apakah yang menyebabkan iri-hati dan kekikiran, apakah asal-mulanya, dan bagaimanakah iri-hati dan kekikiran itu terbentuk, bagaimanakah munculnya? Ketika ada apakah maka iri hati dan kekikiran muncul, dan ketika tidak ada apakah maka iri-hati dan kekikiran tidak muncul?”
“Penguasa para deva, iri-hati dan kekikiran muncul dari suka dan tidak suka;
ini adalah asal-mulanya, ini adalah bagaimana iri-hati dan kekikiran terbentuk, bagaimana iri-hati dan kekikiran muncul. Ketika hal-hal ini ada maka iri-hati dan kekikiran muncul, ketika hal-hal ini tidak ada maka iri-hati dan kekikiran tidak muncul.”
“Tetapi, Yang Mulia, apakah yang memunculkan suka dan tidak suka…?”
– “Penguasa para deva, suka dan tidak suka muncul dari
keinginan….”
– “Dan apakah yang memunculkan keinginan…?” –
“Penguasa para deva, keinginan muncul dari pemikiran. Ketika pikiran memikirkan sesuatu, maka keinginan muncul; ketika pikiran tidak memikirkan apapun, maka keinginan tidak muncul.”
“Tetapi, Yang Mulia, apakah yang memunculkan pemikiran…?”
“Penguasa para deva, pemikiran muncul dari persepsi dan gagasan yang rumit Ketika ada persepsi dan gagasan yang rumit, maka muncul pemikiran. Ketika tidak ada persepsi dan gagasan yang rumit, maka pemikiran tidak muncul.”
(dari DN 21: Sakkapañha Sutta; II 276-77)